On Live

MEDITATION HEARTAugust 29, 2008 3:06 am
Peka Terhadap Hal-hal Kecil       
Ditulis oleh KH Abdullah Gymnastiar   
 

Republika Online

Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Saudaraku yang baik, semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang memiliki kepekaan. Karena, andaikata kita kehilangan kepekaan, maka akan kita akan menghadapi beraneka ragam kesulitan. Ibarat memegang sesuatu yang panas tetapi ternyata tangan kita tidak peka, dapat dibayangkan, tangan kita akan melepuh tanpa kita sadari. Begitupun dengan hati, semakin bersih hati kita, insya Allah akan semakin peka terhadap apapun. Jika hati sudah peka, maka akan bisa mendeteksi sesuatu dengan baik. Seperti halnya cermin, kalau bersih tentunya akan mudah untuk digunakan bercermin diri maupun orang lain. Tapi bila cerminnya kotor, jangankan orang lain, kita pun akan kesulitan melihat wajah sendiri.

Saudaraku, kita harus memiliki kepekaan, bukan saja peka terhadap hal-hal besar, namun peka pula terhadap hal-hal kecil; sepele. Tidak ada satu pun yang besar, kecuali diawali oleh sesuatu yang kecil. Semegah dan setinggi apapun gedung, pastilah ia tersusun atas bata dan besi-besi kecil. Begitu pun sebuah buku, ia tersusun atas kalimat-kalimat. Sebuah kalimat adalah rangkaian kata. Sebuah kata adalah rangkaian huruf. Dan sebuah huruf adalah rangkaian titik.

Titik adalah tanda terkecil yang biasa dilihat manusia. Walaupun kecil, tapi pengaruhnya begitu besar. Di dalam tata bahasa Arab sebuah titik bisa mempengaruhi makna sebuah kata. Tanpa titik beberapa huruf Arab tidak mengandung arti. Begitu pun bila salah menempatkan titik, maka makna sebuah kata dan cara membacanya jadi berbeda.

Sebagai contoh, bila titik disimpan di atas, maka kita membacanya nun. Bila disimpan di bawah, maka kita menyebutnya huruf ba’. Bila ditambahkan satu titik lagi di atas, menjadi huruf ta’. Bila ditambah satu titik lagi berubah menjadi tsa. Demikian seterusnya.

Jadi begitu banyak peran sebuah titik. Maka, Mahasuci Allah yang menjaga Alquran dari kesalahan, walau hanya dari sebuah titik. Salah saja kita menempatkan titik, maka makna sebuah ayat dalam Alquran bisa berubah pula. Kalau seandainya Alquran itu buatan manusia, niscaya ia tidak akan tersusun sedemikian cermatnya. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar Memeliharanya (QS Al-Hijr [15]: 9).

Apa hikmahnya bagi kita? Kita jangan mengabaikan kebaikan sekecil apapun dan juga jangan menganggap remeh keburukan sekecil apapun. Kita harus selalu waspada terhadap semua hal kecil yang bisa menjadi amal atau yang bisa menjadi dosa. Kecil menurut kita belum tentu kecil dalam pandangan Allah.

Allah SWT berfirman, "Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscara dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8). Rasulullah SAW pun mengingatkan kita agar tidak memandang remeh sebuah dosa, "Janganlah engkau memandang besar atau kecilnya maksiat, tapi pandanglah kepada siapa engkau bermaksiat".

Sangat bijak apabila kita tidak membanding-banding sebuah amal dengan amal lainnya. Allah SWT tidak melihat dari besar kecilnya sebuah amal, Allah SWT hanya melihat nilai keikhlasan dan keistiqamahan seorang hamba dalam melakukannya. Boleh jadi, dalam pandangan manusia, amal yang kita lakukan itu terlihat sepele, tapi dalam pandangan Allah SWT, nilainya sangat besar. Begitu pun sebaliknya, kita melakukan sebuah amal yang besar dalam pandangan manusia, tapi teramat kecil dalam pandangan Allah SWT.

Misal, memungut puntung rokok di jalan dan memasukkannya ke tempat sampah. Amal ini terlihat sepele, tapi akan bernilai luar biasa bila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Sungguh! kita pun bisa menjadi mulia karena hal-hal kecil, seperti mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang membantu, mendahului orang mengucap salam, meminta maaf, melempar senyum dengan ikhlas, mempermudah urusan orang, atau pun menunjukkan raut muka cerah.

Saudaraku, kepekaan akan menunjukkan seberapa baik kualitas diri kita. Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat peka terhadap kebaikan atau dosa sekecil apapun, hingga beliau menjadi orang yang sangat berkualitas. Wallahu a’lam bish-shawab.

MEDITATION HEART 3:04 am
Membangun Kewibawaan cara Rasulullah      
Kontribusi dari Aziz Hamid   

Tidak ada manusia yang demikian besar pengaruhnya selain Rasulullah SAW. Pengaruhnya tidak hanya dirasakan para sahabat dan orang-orang yang hidup sezaman, tapi juga dirasakan oleh orang-orang yang terpaut ribuan tahun dengan beliau. Hal ini menggambarkan betapa luar biasanya sosok Muhammad Rasulullah SAW.

Mengapa Rasulullah SAW memiliki pengaruh luar biasa? Sebabnya, Rasulullah SAW sangat efektif dalam berdakwah. Dan efektifitas ini sangat dipengaruhi oleh besarnya wibawa yang beliau miliki. Ya, Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berwibawa. Kata-katanya didengar, perilakunya diteladani, dan perintahnya diikuti.

Dengan wibawanya, beliau pun bisa mengubah orang tanpa menyakiti. Luar biasa.

Pertanyaannya, mengapa beliau berwibawa? Ada lima penyebab. Pertama, sesuainya antara ucapan dengan perbuatan. Rasulullah SAW adalah sosok yang memiliki integritas tinggi. Tidak ada satu riwayat pun, yang shahih, yang menyebutkan bahwa beliau pernah berdusta, ingkar janji, atau menyia-nyiakan amanah.

Saat Rasul memerintahkan sesuatu kepada para sahabat, maka beliaulah orang pertama yang melakukan perbuatan tersebut. Bagaimana pun sulitnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah menunggu seseorang hingga tiga hari, karena beliau telah berjanji dengan orang tersebut.

Kedua, tidak melakukan banyak kesalahan. Rasulullah SAW adalah pemimpin sempurna sehingga jarang sekali melakukan kesalahan. Orang pun menjadi kagum dan percaya kepada beliau. Walau demikian, tatkala melakukan kekeliruan, Rasul berbesar hati mengakuinya. Beliau pun tidak segan-segan menuruti nasihat para sahabatnya bila memang pendapatnya dianggap lebih baik.

Satu pelajaran penting dari poin dua ini bahwa kita pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang meminta maaf, segera mengevaluasi diri, segera memperbaiki diri, dan bertanggung jawab serta rela menanggung semua akibat yang ditimbulkan. Yang tak kalah penting, kita jangan mengulangi kesalah tersebut berulang-ulang. Sekali dua kali orang masih percaya. Namun tiga, empat, atau lima kali kita melakukan kesalahan yang sama, orang pun tak akan lagi melihat kita.

Ketiga, tidak emosional. Rasulullah SAW adalah sosok yang terkenal sangat tenang, santun dan tegas. Dalam kondisi apapun beliau tetap tenang, sehingga setiap keputusannya selalu tepat. Walaupun harus marah, maka marah beliau proporsional, tepat sasaran dan tidak merugikan.

Sebenarnya, berbeda antara marah dan tegas. Kalau marah itu berdasarkan nafsu, sedangkan tegas berdasarkan adil. Seorang pemimpin yang emosional dan pemarah akan jatuh wibawa di hadapan orang yang dipimpinnya. Ia tidak akan dicintai, tapi ditakuti. Kata-katanya mungkin didengar, tapi tidak akan diikuti. Sikap seperti ini jauh dari pribadi Rasulullah SAW.

Keempat, tidak banyak bicara dan humor. Ucapan Rasulullah SAW bagaikan butiran intan permata. Tidak ada yang sia-sia. Semua ucapannya berkualitas tinggi hingga diabadikan dalam kitab-kitab hadis. Kalau pun harus humor atau bercanda, maka humornya tersebut berkualitas dan tidak dibumbui dusta. Mengapa demikian? Beliau mengajarkan bahwa setiap yang kita ucapkan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Kelima, konsisten, teguh pendirian dan tidak plinplan. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan kebenaran. Beliau teguh pendirian dalam menyebarkan cahaya Islam, walau nyawa taruhannya. Ada ungkapan beliau yang sangat terkenal, "Walau matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tak akan mundur dari jalan dakwah ini". Luar biasa. Rasulullah SAW mengucapkannya ketika orang-orang kafir Quraisy meminta agar beliau menghentikan dakwahnya. Demikianlah, tanpa keteguhan sikap, mustahil Islam bisa sampai kepada kita.

Semoga kita bisa meneladani Rasulullah SAW dengan menjadi manusia berwibawa, sehingga kita bisa mengubah orang lain secara efektif. Amin.

(KH Abdullah Gymnastiar )
MOTIVATION 2:58 am

SEBELUM KITA MENGELUH………..

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak
dapat berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di
jalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Allah untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu
cepat.

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan
tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang
menempuh jarak yang sama dengan berjalan.

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran,
orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

REFRESHING FOR BRAINT 2:54 am

KATA-KATA MUTIARA HARI INI

" TIADA HIDUP TANPA KEGAGALAN ,KEKALAHAN , DAN KEJATUHAN…………

AIR SUNGAI MENUJU LAUT MELEWATI JALAN YANG BERLIKU……

BERDIRILAH TEGAK KEMBALI………………………..

JANGAN MEMANDANG KE BELAKANG , MASA LALU TELAH BERLALU………………..

HIDUP BERJALAN TERUS……………………….

LANGIT YANG ABADI TETAP TIDAK BERUBAH DAN HIDUP BAGAIKAN BENTUKAN GERAKAN AWAN DI ANGKASA YANG SELALU BERUBAH-UBAH TIDAK MEMILIKI KETETAPAN DAN TIDAK ABADI . "

"CAHAYA MENTARI BILA DIFOKUSKAN AKAN MEMBAKAR KERTAS " ~Alexander Graham Bell

REFRESHING FOR BRAINTAugust 28, 2008 10:37 am

Dia-lah Jalan Itu

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu
yang kering, munafik dan tanpa keyakinan;
karena Tuhan, dengan rahmat-Nya
akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayuhlah datang, dan datanglah lagi!

Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepada-Ku,
kerana Aku-lah jalan itu.”

****

Jalaluddin Rumi

MEDITATION HEART 10:05 am

Oleh JAKOB SUMARDJO

SI Kabayan ternyata punya saudara-saudara tua di dunia Arab, yaitu tokoh sufi Abu Nawas, Koja Nasruddin, dan Junayd. Ketiga tokoh “Arab” ini menampilkan diri sebagai sosok yang cerdas dan bodoh yang menimbulkan efek humor. Begitu pula Si Kabayan yang dilahirkan di daerah Banten. Tokoh kesayangan masyarakat Sunda ini ternyata berstatus sufi juga, atau setidaknya dipakai untuk mengungkapkan pikiran sufistik.

Menurut C. Hooykaas, tokoh semacam Si Kabayan di Pasundan sebenarnya banyak. Mereka hadir dengan nama yang berbeda-beda. Sebutlah Si Kidul, Bapa Leco, Bapa Lucung, Ahli Nujum, Nujum Sangsara, dan Si Buta Tuli.

Semua nama ini rupanya kemudian disatukan ke dalam satu nama saja, yakni Si Kabayan. Itulah sebabnya karakter Si Kabayan itu paradoks. Pada suatu ketika ia bisa sangat bodoh, tidak bisa membedakan mayat dan orang hidup. Pada ketika lain dia amat cerdas sehingga dapat menyadarkan mertuanya mengakui kesalahannya.

Ada kemungkinan bahwa tokoh Si Kabayan merupakan campuran dari cerita-cerita si bodoh dan si cerdas. Teman-teman bodohnya terdapat di berbagai suku di Indonesia yang dikenal sebagai Si Pandir, Joko Bodo, dan Ama ni Pandir di Batak, sedangkan tokoh cerdasnya ada di Melayu, yaitu Si Luncai.

Dalam khazanah sufi dunia, Abu Nawas lebih menonjol sebagai tokoh cerdas, sedangkan Koja Nasruddin sebagai tokoh bodoh. Dan Si Kabayan berkarakter dua-duanya. Jadi, Si Kabayan itu gabungan dari Abu Nawas dan Koja Nasruddin…

Si Kabayan itu pemalas, suka makan enak, suka sekali tidur, banyak menganggur, miskin, dan jarang bersosialisasi. Watak yang kurang terpuji di zaman modern ini. Tampaknya, itu sengaja digambarkan demikian oleh para pengarang ceritanya. Si Kabayan adalah gambaran seorang pengikut tarekat terutama yang sudah mencapai tingkat sufi. Seorang sufi itu memilih hidup miskin daripada kaya, hina daripada mulia (penganggur dan penidur), menjauhi pergaulan, lapar daripada kenyang (Kabayan suka makan enak), “mati” daripada hidup (kudu bisa paéh saméméh paéh), “bodoh” daripada pintar.

Rupanya, cerita-cerita Si Kabayan muncul dari kumpulan-kumpulan tarekat di wilayah Banten. Cerita-cerita Si Kabayan sendiri juga bersifat paradoks. Dari satu sisi cerita Kabayan itu lucu dan mengggelikan, tetapi cerita yang sama memiliki sisi sebaliknya, yakni menyedihkan. Seorang sufi di Timur Tengah abad 9 menyatakan bahwa “kalau kamu mengetahui apa yang saya ketahui, engkau akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”.

Dunia ini fana, dan carilah yang baka. Jadi, Kabayan dan cerita-ceritanya paradoks, seperti sufisme itu sendiri, penuh pikiran dan peristiwa paradoks.

Dengan demikian, cerita-cerita Si Kabayan bukan sembarangan. Cerita-cerita “dongeng” itu sufistik dan pantas disejajarkan dengan cerita para pendahulunya, Abu Nawas dan Koja Nasruddin. Snouck Hurgronje pernah mengumpulkan 121 cerita Si Kabayan yang 80 di antaranya diangkat sebagai disertasi oleh Lina Maria Coster-Wijaman pada tahun 1929. Kumpulan cerita Si Kabayan tak kalah banyak dengan Koja Nasruddin dan Abu Nawas. Amat disayangkan bahwa cerita-cerita Si Kabayan bahkan tak dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Dunia dalam cerita-cerita Si Kabayan itu terbatas. Ia selalu berselisih dengan bapak mertuanya, tetapi disayangi oleh ibu mertua dan neneknya (simbol makrifat). Kabayan juga selalu bertengkar dengan istrinya, namun tetap menjadi istrinya (rukun bertengkar). Nama istri Si Kabayan ini Si Iteung, tetapi di Banten dikenal dengan nama Si Kendeng atau kadang Cemuweuk. Ini menunjukkan sumber yang berbeda-beda. Tetangganya yang selalu ditipunya adalah Ki Silah dan orang yang selalu dihormatinya adalah Kiai.

Sebuah cerita Abu Nawas masuk dalam cerita Si Kabayan. Inilah ceritanya, Abu Nawas diuji oleh raja karena terkenal kepintarannya. Abu Nawas disuruh menghitung bintang di langit. Jawaban Abu Nawas adalah membawa seember pasir di hadapan raja dan diminta untuk menghitungnya. Tentu saja raja tak mampu. Moral cerita ini adalah bahwa ada hal-hal yang tak mungkin diketahui oleh manusia, dan kita tak usah mencoba memasukinya.

Dalam Si Kabayan, cerita ala Abu Nawas ini lebih kaya. Kabayan diminta “musuh abadinya” Ki Silah untuk menghitung bintang. Si Kabayan menyuruh Ki Silah untuk menghitung bulu kambing.

Lalu Kabayan disuruh mengikat tangannya dengan air. Kabayan mau membuat tali dari air dulu, dan Ki Silah yang harus menyediakan tali itu. Akhirnya, Ki Silah menantang Kabayan apakah pernah melihat setan? Jawab Kabayan, “Saya sedang berhadapan dengan dia (Ki Silah)”.

Tampak di sini kreativitas pengembangan cerita oleh para pengarang Si Kabayan. Hal-hal yang tidak mungkin diketahui dan tak mungkin dilakukan itu hanya godaan setan belaka. Jangan pernah mencoba menjelaskan dan melakukannya.

Koja Nasruddin pernah mimpi, begitu pula Si Kabayan pernah mimpi. Koja mimpi sedang negosiasi sebuah kontrak ratusan juta, dibangunkan oleh istrinya yang menyediakan sarapan pagi. Koja marah-marah karena kontrak belum dia tanda tangani dalam mimpi. Sarapan sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan mimpi kontrak ratusan juta itu. Moral cerita ini, mana lebih penting bagi manusia, mimpi jadi saudagar kaya atau sarapan pagi yang realitas? Bisakah orang mimpi tanpa makan?

Si Kabayan juga pernah mimpi mandi di kali. Ia tanya mertuanya, apa artinya? Kamu mandi di mana? Di bagian hilir. O, kamu akan jadi camat. Tidak, agak hulu. O, kamu akan jadi bupati. Bukan, lebih hulu lagi. O, kamu akan jadi gubernur. Kalau lebih hulu lagi? Kamu jadi presiden. Lebih hulu lagi? Kamu akan dikerkah harimau. Saya pilih di tempat yang jadi presiden saja. Seperti Nasrudin, Si Kabayan juga memandang mimpi sebagai realitas.

Cerita Si Kabayan kadang-kadang jorok-pornografis. Ketika Kabayan sedang memandikan kerbaunya, ia diintip oleh istrinya sedang menyetubuhi kerbaunya. Istrinya marah dan membawa pulang pakaian Kabayan. Ketika Kabayan pulang menggiring kerbaunya, datang rombongan lurah mengadakan gotong royong memotong pohon-pohon bambu.

Kabayan bertanya, “Mengapa ramai-ramai itu?”

Kata istrinya, “Pak lurah mencari orang yang menyetubuhi kerbau.”

Kabayan langsung sembunyi di rumpun bambu. Ketika rombongan sampai di rumpun bambu, pak lurah menyuruh anggota rombongannya menebang habis rumpun itu. Kabayan keluar telanjang dari rumpun bambu sambil marah-marah.

“Apa peduli kalian! Kerbau, kerbauku sendiri, Kukawini, kawini sendiri! Perkara nanti jadinya bagaimana, itu urusanku!” Tentu saja rombongan kerja bakti itu melongo semua.

Di sini Kabayan itu pembohong yang bodoh. Perbuatannya salah, pikirannya benar, yakni dia “tobat” tak langsung dengan mengakui perbuatannya yang dikiranya semua orang sudah mengetahuinya. Laku tobat memang merupakan salah satu jalan tarekat. Pertobatan Kabayan semacam itu banyak dijumpai di berbagai cerita.

Cerita-cerita Si Kabayan bukan hanya berhenti di tingkat tarekat, tetapi juga memasuki tingkat hakikat. Salah satu ceritanya begini. Kabayan menjumpai mayat seorang cantik di pinggir jalan. Dikiranya perempuan cantik itu naksir padanya karena tersenyum dan terus-menerus menatap Si Kabayan ke mana pun Kabayan berposisi.

Ketika Kabayan mau menciumnya, bau tak sedap tercium. Ia mengira perempuan itu kurang minyak wangi. Maka Kabayan pergi ke majikan perempuannya dan minta sedikit minyak wangi. Ketika majikannya bertanya untuk apa, tahulah majikan itu bahwa yang dijumpai Kabayan adalah mayat.

Majikan si perempuan langsung masuk rumah, dan tiba-tiba kentut. Bau tak sedap dicium Kabayan sehingga ia menganggap majikannya sudah mati pula karena baunya seperti mayat. Majikannya langsung dibopong dan dibuang di pinggir jalan juga.

Makna hakikatnya adalah bahwa mayat seperti orang hidup, orang hidup seperti mayat. Manusia seperti majikan itu, yang hanya memikirkan milik secara kikir adalah mayat yang hidup. Hidup seorang sufi justru sebaliknya, yakni paéh saméméh paéh.

Demikianlah puluhan cerita Si Kabayan berkualitas semacam itu. Hampir semuanya bersifat sufistik, terutama di tingkat tarekat dengan memainkan kebodohan manusia yang tak kunjung tobat. Serakah, menipu, ingkar janji, balas dendam.

Cerita-cerita itu menertawakan diri kita ini. Manusia-manusia bodoh spiritual, jauh dari jalan rohani. Tokohnya Si Kabayan yang bodoh secara spiritual, dan cerdas-cerdik secara manusia.

Pesan cerita Si Kabayan universal karena mistisisme memang universal. Hanya cara mengungkapkannya secara Sunda.

Saya kira cerita-cerita Si Kabayan pantas disejajarkan dengan Abu Nawas (cerita kepintarannya) dan Koja Nasruddin (cerita kebodohannya). Cerita-cerita itu bersifat komedi karena menertawakan kebodohan manusia, tetapi sekaligus juga tragedi karena sebenarnya kisah sedih manusia yang jauh dari rohani.

Si Kabayan itu paradoks, bisa dibaca dari sisi komedinya (seperti kita lakukan selama ini), tetapi juga bisa kita baca dari sisi tragedinya. Tertawa dari sisi eksoterik dan awam, menangis dari sisi esoterik dan sufistik.

Cerita-cerita mistisisme semacam itu ada di banyak sistem kepercayaan. Dan karakternya sama, menertawakan kebodohan manusia!***

Sumber: Pikiran Rakyat

MEDITATION HEART 10:02 am
 

 

Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Fakultas Ushuluddin. Dan lulus tahun 1952. Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi "Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan", yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah mengenyam "pendidikan" penjara sejak dari mudanya. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rejim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak-anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing-masing. Dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya.

Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Profil Syekh Yusuf Al-Qardhawi dapat diikuti secara lengkap di situs Hidayatullah.

MEDITATION HEART 8:33 am
Nama Pesantren: Pondok Pesantren Sukahideng
Pengasuh: KH. Zainal Muhsin
Prof. Dr. KH. T Fuad Wahab
Alamat: Sukahideng Sukarapih Sukarame 46461 Tasikmalaya
Propinsi:Jawa_Barat
Contact: Telp:0265 545702-541152
Fax:0265 545702
Email:
Website:
Keterangan: Menerima:Putra-Putri
Deskripsi:PROFIL PONDOK PESANTREN PERGURUAN KHZ. MUSTHAFA SUKAHIDENG I. Sejarah Berdiri Pondok Pesantren Pesantren ini bernama lengkap "Pondok Pesantren Perguruan KHZ. Musthafa Sukahideng " didirikan pada masa penjajahan Belanda tahun 1341 H bertepatan dengan tahun 1922 M. Diawali ada seorang wanita dermawan bernama Hj. Siti Juariyah membiayai dan memberangkatkan dua orang pemuda sepupu keturunan H. Arijam penduduk kampung Bageur yang bernama Umri dan Udaemi ke Pesantren Gunung Pari. Sekembalinya dari Pesantren kedua Pemuda tersebut dinikahkan kepada dua orang wanita yang hubungan keduanya sama seperti hubungan Umri dan Udaemi, yaitu saudara sepupu dan masih ada hubungan keluarga dengan Hj. Juariyah. Masing-masing diberi tanah garapan dan lahan untuk mendirikan Pesantren oleh Hj. Juariah, bahkan pada tahun 1928 M. kedua Kyai muda tersebut diberangkatkan ke tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji atas biaya beliau, untuk kemudian nama Umri berubah menjadi Zainal Musthafa sementara Udaemi berubah menjadi Zenal Muhsin. Sepulangnya dari menuntut ilmu, pada tahun 1922 M. KHZ. Muhsin mendirikan Pesantren di Kampung Bageur yang bernama Pesantren Sukahideng. Beliau diberi sebidang tanah wakaf untuk dijadikan Masjid dan sarana berdakwah karena pada saat itu masyarakat kampung Bageur masih berada dalam kegelapan Khurafat Jahiliyah dan jauh dari pendidikan agama Islam. Jangankan masalah fiqih, masalah aqidah pun mereka tidak tahu, bahkan kebanyakan mereka masih memperdalam ilmu kesaktian dan yang paling mendominasi corak kehidupan masyarakat pada saat itu adalah ajaran-ajaran Hindu. Selain di kampung Bageur beliaupun berdakwah ke kampung-kampung lain, baik di lingkungan desa Sukarapih maupun di luar desa, sehingga lama kelamaan semakin banyak orang yang ingin belajar agama Islam dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Semua ini yang melatar belakangi usaha beliau untuk mendirikan Pondok Pesantren sebagai sarana untuk pemondokan bagi Santri yang sedang belajar agama. Sementara itu perjalanan dakwah beliau ke kampung-kampung membuat beliau menikahi dua orang istri lainya, yang masing-masing berasal dari kampung Lembur Sumur (Cibalanarik) dan Kadacang. Beliau melakukan hal itu, karena beliau sering berkeliling ketempat tersebut untuk kepentingan berdakwah. Pada tahun 1938 KH. Zenal Muhsin Wafat. Saat itu anak sulung beliau yaitu KH.A. Wahab Muhsin masih berusia 17 tahun, maka kepengurusan Pesantren dipimpin oleh salah seorang menantu KH. Zenal Muhsin yaitu KH. Yahya Bahtiar Afandi sampai dengan tahun 1945. Dan dari tahun 1945 sampai dengan 2000 M. yang memimpin Pusaka peninggalan ini adalah putra sulungnya yaitu KH.A. Wahab Muhsin Rohimahulloh. Sepeninggal ayahnya, beliau mendidik adik-adiknya (KH. Ambari Muhsin, Siti Rukayah (Gayah), KH. Fuad Muhsin, Siti Maesaroh, Siti Rumaya dan KH. Moh. Syihabuddin Muhsin) menggantikan ayahnya yang sudah wafat, hingga berfungsi ganda sebagai guru dan sekaligus orang tua bagi adik-adiknya. Beliau mencurahkan seluruh hidupnya dalam mengelola dan memperbaharui Pesantren ini, baik dalam sistem, materi pelajaran dan metoda, sehingga Pesantren ini maju dengan perlahan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, hingga melahirkan alumni yang banyak tersebar berkiprah diberbagai intansi dan perguruan tinggi, baik perguruan tinggi islam maupun perguruan tinggi umum. Mulai dari tahun 1989 M. KH. A. Wahab Muhsin sakit, maka kepemimpinannya dilimpahkan kepada adik beliau yang keenam yaitu KH. Moh. Syihabuddin Muhsin yang dibantu oleh putra dan menantunya. Pada bulan Januari 2007 KH. Moh. Syihabuddin Muhsin Wafat, maka kepemimpinan Pondok Pesantren Sukahideng diteruskan oleh putra sulung KH. Wahab Mushsin yaitu Dr. KH. T. Fuad Wahab sampai sekarang. Setelah beberapa tahun Pesantren Sukahideng berdiri, Udaemi yang sudah berubah nama menjadi Zenal Musthafa kembali ke kampung halaman, seperti yang sudah disebutkan, beliaupun sama diberi tanah wakaf oleh Hj. Juariyah untuk mendirikan Pesantren di Kampung Cikembang yang kemudian nama kampung tersebut berubah nama sesuai dengan nama Pesantren yang sekarang kita kenal dengan Pesantren Sukamanah yang berdiri tahun 1927. Pada tanggal 25 Februari 1944 M. bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awal 1365 H. KHZ. Musthafa mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan Pasisme Jepang, kemudian beliau ditangkap oleh serdadu Jepang. Sepeninggal KHZ. Musthafa, Pesantren Sukamanah mengalami masa fatrah (masa kosong), kemudian KH. A. Wahab Muhsin menyuruh adiknya yang keempat KH. Fuad Muhsin yang menikah dengan putri KHZ. Musthafa untuk mengisi kefatrahan Pesantren tersebut dan meneruskan perjuangan KHZ. Musthafa dalam bidang pendidikan. II. Visi dan Misi Pondok Pesantren Visi : Kajian nilai-nilai islam untuk dijadikan standar bagi langkah-langkah dalam kehidupan sehari-hari serta da’wah dan amar ma’ruf dan nahyil mungkar berdasarkan firman Alloh surat At-Taubah ayat 122 dan Ali Imron ayat 104. Misi : Membentuk santri-santri yang mempunyai kepribadian seperti santri-santri Rosululloh Saw. yang diasramakan, sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Qur’an surta Al-Baqoroh ayat 273: 1. Mempunyai pola hidup sederhana 2. Mempersiapkan diri untuk bisa mempromosikan konsep Alloh Swt. agar menjadi konsep yang paling bermartabat. 3. Tidak meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab demi mencari kesenangan diri. 4. Tidak memperlihatkan keprihatinan dan kekurangan diri di dalam masalah duniawi karena mempunyai harga diri 5. Punya khas kepribadian tersendiri. 6. Hidup mandiri, tidak tergantung kepada orang lain. III. Sistem Pengajaran Sistem pengajaran yang diterapkan di Pesantren Sukahideng pada awal mula didirikan belum mengenal sistem Classikal, karena pada saat itu santri-santri belum banyak seperti sekarang, pada saat itu sistem pengajaran masih sangat sederhana bahkan lebih sederhana dari sistem yang kita kenal dengan istilah sorogan ataupun bandongan. Antara kepemimpinan yang pertama dengan yang selanjutnya banyak mengalami perubahan. Hal ini sangat jelas terlihat pada saat kepemimpinan KH Wahab Muhsin, karena pada saat itu sudah mulai diadakan pengkelasan tetapi belum sebaik sekarang. Pada saat itu pengkelasan belum berdasarkan kemampuan hanya bedasarkan usia. Kemudian pada saat ini pengkelasan sudah mulai tertata dengan baik, Pengkelasan dilakukan berdasarkan kemampuan dan sebelum pengkelasan dilakukan, terlebih dahulu diadakan test untuk mengetahui kemampuan santri yang akan belajar di Pesantren. Sampai saat ini sistem yang digunakan adalah sistem classical, di mana santri ditempatkan pada kelas tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya (tidak berdasarkan tingkatan sekolah) yang diukur melalui Test Klasifikasi bagi santri baru, yang dilaksanakan di awal tahun pelajaran. Kegiatan Evaluasi Hasil Belajar dalam satu tahun akademik dilaksanakan 4 kali; berupa : ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, baik pada smestre ganjil dan semester genap yang masing-masing meliputi ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester, pada Semester Ganjil dan Semester Genap. A. Marhalah dan Jenis Pelajaran Adapun nama-nama marhalah dan jenjang pelajaran yang berlaku di Pesantren ini adalah sebagai berikut: 1. Marhalah Tamhidiyyah I 2. Marhalah Tamhidiyyah II 3. Marhalah Ibtidaiyyah I 4. Marhalah Ibtidaiyyah II 5. Marhalah Ibtidaiyyah III 6. Marhalah Mutawassithah ( I, II, III ) 7. Marhalah Mutaqaddimah : : : : : : : - Belajar tulis baca huruf al-Qur’an. - Hapalan Al-Qur’an dan hadits-hadits - Memperlancar dan memperbaiki baca tulis huruf al-Quran yang belum lancar dan baik. - Hapalan Al-Quran dan hadits - Hapalan Nahwu dan tashrif - Tauhid, Fiqh dan Akhlaq - Hapalan Al-Qur’an dan Hadits - Tauhid, Fiqih, Akhlaq dan Tarikh - Penjelasan Nahwu, hapalan tashrif - Hapalan Al-Qur’an dan Hadits - Tauhid, Fiqih, Akhlaq dan Tarikh - Penjelasan, Nahwu dan Sharaf - Hapalan Al-Qur’an dan Hadits - Tauhid, Fiqih, Akhlaq dan Tarikh - Penjelasan dan tathbiq Nahwu - Sharaf - Tafsir, Hadits - Nahwu, Sharaf, Balaghah - Fiqih, Aqidah, Akhlak / Tashawuf - Musthalah Hadits, Ushul Fiqih - Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Musthalah Hadits - Fiqih, Ushul Fiqih, Qoidah Fiqhiyyah - Aqoid, Tashawuf, Mantiq, Balaghah dan Adab B. Kitab Pegangan No Nama Marhalah K I T A B P E G A N G A N 1. Tamhidiyyah I Juz ‘Amma, 101 Hadits, Tahwid 2. Tamhidiyyah II Juz ‘Amma, 101 Hadits, Qishoshu al-Anbiya`, Matan jurumiyyah, Amtsilah Tashrifiyyah, Bahasa Arab I A, Durusu al-‘Aqoid I-II, Durusu al-Fiqhiyah I-II, Al-akhlaqu li al-Banin I-II, Tajwid. 3. Ibtidaiyyah I Hafalan, tarjamah dan penerangan surat Al-Mulku, Al-Waqi’ah dan Luqman, Mukhtar al-Hadits (Hadits ke-1 sampai 300), Khulashoh I, Durusu al-‘Aqoid III, durusu al-Fiqhiyah III, Safinah, Taisir al-Khalaq, Hafalan dan penjelasan jurumiyyah, Amtsilah Tashrifiyyah, PEndalaman Bahasa Arab I A, Fathu al-Athfal. 4. Ibtidaiyyah II Hafalan, tarjamah dan penerangan surat Yasin, Fush-Shilat dan Al-Hasyr, Mukhtar al-Hadits (Hadits 300-600), Khulashoh II, Durusu al-‘Aqoid III, Durusu al-Fiqhiyah III, Sulam at-Taufiq, Ta’lim al-Muta’allim, Pendalaman jurumiyyah, Sharaf al-Kailani, Bahasa Arab I B, HIdayatu al-Mustafid. 5. Ibtidaiyyah III Hafalan, tarjamah dan penerangan surat Al-Kahfi, Al-Furqon dan As-Sajdah, Mukhtar al-Hadits (Hadits 600-900), Khulashoh III, Fathu al-Qorib, Jauhar at-Tauhid, Bidayah al-HIdayah, Qowaid al-Lughah, Sharaf al-Kailani, Pendalaman Bahasa Arab I B. 6. Mutawassithah I A Tafsir Q.S. Al-Baqarah (Al-Jalalain), Riyadh ash-Sahalihin, Bulughu al-Maram, Risalah al-Mu’awanah, Jauhar at-Tauhid, Alfiyah Ibn Malik, Balaghah, Fathu al-Mu’in. 7. Mutawassithah I B Tafsir Q.S. Al-Baqarah (Al-Jalalain), Riyadh ash-Sahalihin, Bulughu al-Maram, Risalah al-Mu’awanah, Jauhar at-Tauhid, Qowaid al-Lughah, Balaghah, Fathu al-Mu’in. 8. Mutawassithah II A Tafsir Q.S. Al-Maidah (Al-Jalalain), Riyadh ash-Sahalihin (Lanjutan), Bulughu al-Maram (Lanjutan), Risalah al-Mu’awanah, Jauhar at-Tauhid, Alfiyah Ibn Malik, Balaghah (Lanjutan), Fathu al-Mu’in. 9. Mutawassithah II B Tafsir Q.S. Al-Maidah (Al-Jalalain), Riyadh ash-Sahalihin (Lanjutan), Bulughu al-Maram (Lanjutan), Risalah al-Mu’awanah, Jauhar at-Tauhid, Alfiyah Ibn Malik, Balaghah (Lanjutan) , Fathu al-Mu’in. 10. Mutawassithah III Tafsir Q.S. Ali-Imron (Al-Jalalain), Riyadh ash-Sahalihin (Lanjutan), Bulughu al-Maram (Lanjutan), Risalah al-Mu’awanah, Jauhar at-Tauhid, Alfiyah Ibn Malik, Balaghah (Lanjutan), Fathu al-Mu’in. 11. Mutaqaddimah Tafsir al-Jalalain, Riyadh ash-Sahalihin (Lanjutan), Jauhar al-Maknun, Musthalah al-Hadits, Tanbih al-Mughtarrin, Ghayatu al-Wushul, Fathu al-Mu’in, 12. Dirasah Khoshoh Tafsir ash-Showiy, Syarhu al-Hikam, Ihyau ulumuddin, Syarhu al-Bukhariy, Lu`lu wa al-Marjan, Jauharotu al-Maknun, Mansyuroh Kifayatu al-Akhyaar, Ghayatu al-Wushul, Fathu al-Mu’in. 13. Pengajian Khusus SLTA (Senin, Selasa dan Rabu) Fathu al-Qorib, Risalatu al-Mu’awanah, Mansyuroh. IV. Identitas dan Data Umum Pondok Pesantren Nomor Statistik Pesantren : 412.32.06.26.002 Nama Pondok Pesantren : Pesantren Sukahideng Alamat : Kp. Bageur Rt 16/04 Desa : Sukarapih Kecamatan : Sukarame Kabupaten : Tasikmalaya Propinsi : Jawa Barat No Telepon. : (0265) 545702-541162 Faximili : (0265) 545702 Tahun berdiri : 1341 H / 1922 M Nama Pendiri Pesantren : KH. Zainal Muhsin Pengasuh : Pimpinana Pesantren : Dr. KH. T. Fuad Wahab : Wakil Pim. Pesantren : Drs. KH.Ii Abdul Basith W : Sekretaris : Drs. Toto Musthafa KF. : Bendahara : Ny. Hj. Ai Maemunah Organisasi Alumni : Asosiasi Santri Alumni Sukahideng ( ASAS ) Jumlah Santri : - Santri yang diasramakan : Laki-laki 514 orang Perempuan 436 orang - Santri yang tidak daiasramakan : Laki-laki 278 orang Perempuan 192 orang Jumlah 1.420 orang Jumlah pengajar/Ustad : 75 orang V. Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren 1. Satu buah Masjid pusaka dan satu buah Masjid Jamie 2. 3 buah gedung Asrama putra 3. 4 buah gedung Asrama putri 4. 1 ruang sekretariat Pesantren 5. 23 Ruang belajar 6. 1 ruang Laboratorium Perpustakaan digital 7. 1 ruang Laboratorium komputer 8. 1 buah Gedung Pos Kesehatan Pesantren (POSKESTREN) 9. 1 ruang Koperasi Pondok Pesantren (KOPONTREN) 10. 1 gedung Unit Pelatihan dan Produksi Industri Kerajinan Bordir dan Jahit Pondok Pesantren 11. 2 ruang Unit Waserda putra dan putri 12. 3 ruang wisma alumni VI. Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren A. Dewan Pimpinan 1. Pimpinan Pesantren : Dr. KH. T. Fuad Wahab 2. Wakil Pimpinan Pesantren : Drs. Ii Abdul Basith Wahab 3. Sekretaris : Drs. Toto Musthafa KF 4. Bendahara : Hj. Ai Muhammad B. Dewan Guru 1. KH. E. Nuruddin 2. KH. Amas Baskara 3. Drs. KH. I. Abdul Basith Wahab 4. Drs. T. Musthafa KF. 5. Abdul Hamid S.Ag 6. Drs. Tatang Mukhtar Wahab 7. Drs. Ate Kosasih 9. Asep Mulyana S.Ag 10. Mamat Rahmatillah 11. Aan Ardiansyah 12. Endang Ishak S.Ag 13. Adi Majdi Syam S.Ag 14. Wawan Ridwan Syam 15. Dadan Rahmat Ismail S.Ag C. Bidang-Bidang 1. Bidang Pengajaran : KH. E. Nuruddin - Sub Bid. Kurikulum : Endang Ishaq S.Ag - Sub Bid. Bimbingan Minat dan Bakat : Drs. Tatang Mukhtar - Sub Bid. Olah Raga dan Kesenian : Adi Majdi Syam S.Ag - Sub Bid. Pengembangan SDM : Dr. H. Syihabuddin Q.MA - Sub Bid. Perpustakaan dan Laboratorium : Drs. H. E. Bahrul Hayat M.Ag 2. Bidang Administrasi dan Keuangan : Drs. H. Muhammad Sy. SH. - Sub Bidang Administrasi Umum : Drs. Aay Abdul Hay - Sub Bidang Administrasi Keuangan : Cucu Wahab S.Ag - Sub Bidang Administrasi Santri : Dewan Santri 3. Bidang Kerjasama dan Humas : Drs. H. Harun Firdaus M.Si - Sub Bid. Kerjasama Antar Organisasi : Drs. H. Edeng ZA. M.Pd - Sub Bid. Kerjasama &Orang Tua : Mamat Rahmatilah - Sub Bid. Kerjasama Antar Alumni : H. Atang Suryana SMD -. Sub Bid. Pengabdian : Drs. Engkus Koswara M.Si - Sub Bid. Penerbitan : Drs. Aam Abdussalam M.Pd 4. Bidang Pengembangan Sarana : KH. Amas Baskara - Sub Bid. Sarana Pendidikan dan Pengajaran : Asep Mulyana S.Ag - Sub Bid. Sarana Fisik : Abdul Hamid S.Ag - Sub Bid. Inventaris Pesantren : Drs. Ate Kosasih 5. Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan Usaha : Drs. T. Musthafa KF. - Sub Bid. Pengembangan Ekonomi dan Wira Usaha : Drs. H. Ateng Sy. M.Ag - Sub Bid. Kesejahteraan Staf Pengajaran : Aan Ardiansyah - Sub Bid. Kesejahteraan Santri : Ny. Aa Ahadiyah S.Ag - Sub Bid. Kesehatan : dr. Cecep Z. Khalish SKM Sukahideng, Juli 2007 Pimpinan Pondok Pesantren Perg. KHZ. Musthafa Sukahideng, Prof. Dr. KH. T. Fuad Wahab
NEWS 2:28 am
Selamat Datang Ramadhan
Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT pada tahun ini kita semua akan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan 1429 H. Bulan diwajibkannya puasa dan diturunkannya Al−Quran sebagai hidayah untuk manusia.

Bulan penuh berkah dan rahmat serta bulan pembinaan kaum muslimin menuju derajat takwa. “Hai orang−orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang−orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah: 183).

Bulan Ramadhan senantiasa datang pada saat yang tepat. Pada saat umat Islam membutuhkan kekuatan iman dan ruhiyah untuk menghadapi kondisi−kondisi sulit dan berat dalam kehidupan mereka.

Dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah SWT memberikan bantuan dan sekaligus hiburan kepada umat Islam dalam menghadapi kondisi berat, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang berat dan sulit tersebut.

Memasuki momentum Ramadhan yang sangat baik ini, umat Islam harus mempersiapkan dengan baik sehingga tujuan Ramadhan dapat tercapai, yaitu terealisirnya ketakwaan. Ketakwaan merupakan kunci pembuka pintu rahmat Allah SWT, jalan keluar dan solusi atas segala krisis multidimensional.

Puasa di bulan Ramadhan adalah pelatihan dan pendidikan bagi umat muslim yang langsung datang dari Allah yang Maha Mengetahui kemaslahatan mereka. Menahan diri dari makan dan minum dan syahwat di siang hari agar terlatih untuk menahan diri dari nafsu serakah, tamak dan rakus serta menahan diri dari segala kemaksiatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Dan puasa di bulan Ramadhan adalah sarana yang paling efektif untuk mendidik manusia menjadi insan yang bertakwa. Sehingga mereka memiliki keberanian untuk merealisasikan Syariah Islam dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Lalu apa yang harus kita persiapkan untuk memasuki bulan Ramadhan, agar Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan tahun lalu, diantaranya:

Pertama, memperkuat kerinduan dan kecintaan terhadap bulan suci Ramadhan dan rasa harap untuk dapat menikmati keutamaannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw. jika sudah masuk bulan Rajab senantiasa berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan” (HR At−Tirmidzi dan Ad−Darimi).

Kedua, menyiapkan diri dengan baik, persiapan hati, persiapan akal dan persiapan fisik. Persiapan hati dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al−Quran, shaum sunnah, dzikir, doa, dan lainnya.

Persiapan akal dengan mendalami ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Dan persiapan fisik dengan menjaga kesehatan, kebersihan rumah dan lingkungan. Dan juga menyiapkan harta yang halal untuk bekal ibadah Ramadhan serta ibadah lainnya.

Ketiga, merencanakan peningkatan prestasi ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini dari tahun lalu, baik perencanaan yang bersifat umum maupun perencanaan bersifat rinci. Seperti peningkatan dalam tilawah, hafalan, pemahaman dan pengamalan Al−Quran.

Keempat, mengutamakan ukhuwah Islamiyah serta persatuan umat Islam dan mengsisi ibadah Ramadhan dengan tetap komitmen pada Al−Quran dan Sunnah. Karena ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam jauh lebih penting dari ibadah−ibadah sunnah dan perbedaan pendapat tetapi menimbulkan perpecahan.

Kelima, melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan hati yang ikhlas dan memperhatikan segala adab serta sunnah−sunnahnya. Menghiasi Ramadhan dengan shalat tarawih, tilawah Al Qur−an, memperbanyak dzikir dan doa, membayar zakat, infak dan melakukan I’tikaaf pada sepuluh hari terakhir (asyrul awakhir).

Keenam, menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat), dengan memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak−hak mereka.

Ketujuh, menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah dan Syahrud Dakwah (Bulan Pendidikan dan Dakwah). Diantara ciri khas bulan Ramadhan adalah tumbuh suburnya suasana ke−Islaman disemua tempat. Umat Islam mempunyai kesempatan lebih banyak untuk beribadah.

Puasa merupakan sarana yang sangat efektif untuk menahan segala kecenderungan negatif dan memotivasi untuk melakukan semua bentuk kebaikan. Sehingga peluang tarbiyah dan dawah di bulan Ramadhan lebih terbuka dan lebih luas.

Kedelapan, mengambil keberkahan Ramadhan semaksimal mungkin, termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat, dengan melakukan aktifitas positif, seperti; bazar amal, membuka pasar−pasar alternatif, penggalangan dana, penumbuhan produk pribumi, peningkatan investasi sesama umat Islam, memunculkan kreatifitas di bidang seni budaya, dan lainnya.

Kesempatan datangnya Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri sehingga perubahan−perubahan yang diharapkan dapat berlangsung dengan baik. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shaum dan amal shaleh lainnya

Dengan Ramadhan, mari kita bangkitkan semangat beribadah kita sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Wallahu’alam.

NEWS 2:22 am
Imsakiyah Ramadhan 1429 H
(Untuk Kota Bandung 6°57′ LS 107°34′ BT GMT +7)
Tgl Imsak Shubuh Terbit Dhuhur Ashr Maghrib Isya’
1 04:24 04:34 05:47 11:52 15:10 17:52 19:01
2 04:23 04:33 05:47 11:51 15:09 17:52 19:01
3 04:23 04:33 05:46 11:51 15:09 17:52 19:01
4 04:23 04:33 05:46 11:51 15:08 17:52 19:01
5 04:22 04:32 05:45 11:50 15:08 17:52 19:00
6 04:22 04:32 05:45 11:50 15:07 17:51 19:00
7 04:21 04:31 05:44 11:50 15:06 17:51 19:00
8 04:21 04:31 05:44 11:49 15:06 17:51 19:00
9 04:20 04:30 05:43 11:49 15:05 17:51 18:59
10 04:20 04:30 05:43 11:49 15:04 17:51 18:59
11 04:19 04:29 05:42 11:48 15:04 17:50 18:59
12 04:19 04:29 05:42 11:48 15:03 17:50 18:59
13 04:18 04:28 05:41 11:48 15:02 17:50 18:59
14 04:18 04:28 05:41 11:47 15:01 17:50 18:58
15 04:17 04:27 05:40 11:47 15:01 17:50 18:58
16 04:17 04:27 05:40 11:47 15:00 17:50 18:58
17 04:16 04:26 05:39 11:46 14:59 17:49 18:58
18 04:16 04:26 05:39 11:46 14:58 17:49 18:58
19 04:15 04:25 05:38 11:46 14:58 17:49 18:57
20 04:15 04:25 05:38 11:45 14:57 17:49 18:57
21 04:14 04:24 05:37 11:45 14:56 17:49 18:57
22 04:14 04:24 05:36 11:44 14:55 17:48 18:57
23 04:13 04:23 05:36 11:44 14:54 17:48 18:57
24 04:13 04:23 05:35 11:44 14:53 17:48 18:56
25 04:12 04:22 05:35 11:43 14:53 17:48 18:56
26 04:12 04:22 05:34 11:43 14:52 17:48 18:56
27 04:11 04:21 05:34 11:43 14:51 17:47 18:56
28 04:10 04:20 05:33 11:42 14:50 17:47 18:56
29 04:10 04:20 05:33 11:42 14:49 17:47 18:56
30 04:09 04:19 05:32 11:42 14:48 17:47 18:56
:: Arah kiblat
Untuk Kota : Bandung 6°57′ LS 107°34′ BT (GMT +7)
Arah kiblat: 295°11"23′
Jarak : 7795.336 Km
Catatan :
  • Dibuat oleh Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Departemen Agama RI tanggal 27-29 Februari 2008
  • Penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1429 H, menunggu pengumuman Menteri Agama RI
  • Diperbolehkan memperbanyak dengan tujuan non komersial dengan menyebutkan sumbernya
  • Memperbanyak untuk tujuan komersial harus mendapat izin tertulis dari Ketua Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI
imsak ver 0.7.3 © 2004-2008 by Cahya DSN